Menelusuri leluhur

Keluarga besar R. Prawirotruno

Menelusuri leluhur itu berarti bersilaturahim dengan Eyang, Uyut, Mbah, Kakek, Nenek, Bude, Pakde, Om, Tante dan handai taulan.

Perjalanan kali ini memang sengaja bukan untuk liburan tapi ingin berkenalan kembali dengan keluarga besar Bapaknya Papa yang belum terlalu diakrabi sangking besarnya 😅, juga ingin menyambung rasa, hati dan perhatian untuk para sesepuh yang sedang sakit. 

Bermula dari undangan Halal bi halal yang diterima seminggu sebelum lebaran, (alhamdulillah nya keluarga besar ini selalu bertemu rutin 1 tahun sekali setelah lebaran)

Pertama membaca undangannya ada yang tidak familiar, Keluarga Besar R. Djojomiharjo, eeeem siapa yaaa? Tapi di bawahnya ada tertulis Keluarga R. Prawirotruno, naah kalau ini tahu, ini kakeknya Papa 😜.

Meski tarik ulur, seperti biasa membiarkan Allah yang berkehendak, akhirnya dengan niat untuk bersilaturahim, pas hari lebaran barulah mencari tiket ke Malang dan dapat! Hanya…pulangnya kok mahal (hahaha ya iyalah arus balik lebaran), yaa tapi mungkin Allah ingin kita ke Surabaya sebentar untuk meneruskan niat bertemu dengan sesepuh yang lain, akhirnya tiket pulang dari Surabaya saja. 

Perjalanan ini cuma kami bertiga, Mama-Saya dan Ozan. 
Tiba di Malang jam 10 langsung ke hotel, siap-siap ke tempat acara. Sampai di sana acara sudah dimulai, mengisi buku tamupun saya sedikit bingung ketika ditanya, “Dari eyang yang mana?” Heh? Emang banyak yaa? Hahaha 😅
Masuk ke tempat acara…eeemmm cuma beberapa wajah yang familiar, tapi mama lumayan kenal para tetua. 

Generasi ke-3 R. Djojomiharjo

Setelah acara ramah tamah, barulah bisa ngobrol dengan sodara-sodara dan jujur…banyak yang saya engga tahu 😅

Hapal muka engga tahu nama, mau nanya langsung malu hehehe. Ada yang lupa muka dan lupa nama! Paraaah! 😜

Akhirnya puzzle itu pun tersusun perlahan. Halal bihalal ini adalah Keluarga R. Djojomiharjo, punya anak yaitu R. Prawirotruno (7 atau 8 bersaudara), R. Prawirotruno punya anak R. Syafi’i, R. Syafi’i punya anak Sadono Indra Irana yaitu Bapak saya, artinya saya generasi ke 5, lumayan deh baru ngerti. 

Nah, mulai bingung lagi ketika saya harus memanggil sodara yang keliatan masih muda (dibanding para sesepuh loh! Hehehe) dengan panggilan Om & Tante! 

Diusut punya usut, eyang R. Prawirotruno dan kakek Safi’i itu anak ke-1 (dari entah 7 atau 8 bersaudara), walhasil adik-adiknya Kakek Safi’i umurnya engga terlalu jauh dari Papa saya. 

Heeeem…yang saya baru tahu juga, saya kira kakek Safi’i itu orang Trenggalek, ternyata, eyang R. Prawirotruno itu orang Madura asli dari Pamekasan yang ditugaskan kerja di Trenggalek, oalaaaah! (Artinya Papa dari kedua pihak Ibu dan Bapak orang madura asli nih)
Pantes saja saya pernah melihat nama kakek Safi’i di daftar silsilah keluarga nenek Saleha(istri kakek Safi’i). Hahaha mulai pabalieut 😅

Sudah dulu deh menelusuri asal muasal hahaha 
Disisi lain… saya merasakan kehangatan berbeda di acara itu, kenapa? 

Karena saya merasakan alm. Papa, bukan hanya kehadirannya, tapi juga buah yang ditanam olehnya. Hampir saudara yang berbicara dengan saya atau mama bercerita tentang papa, bagaimana mereka mengingat papa, merindukan papa ….

Alhamdulillah papa dikenal sering silaturahim dengan saudara-saudara nya, dulu waktu kami kecil, hari ke-4 atau ke -5 lebaran sering diajak Tour de Java alias menyusuri Jakarta-Jawa Timur melalui darat, jalurnya Jakarta – Semarang – Solo – Trenggalek -Blitar – Malang – Surabaya – Madura – Surabaya – Pasuruan – Probolinggo – Jember, demi bertemu keluarga ditiap kota. 

Papa juga yang sering memberi perhatian dengan rajin menelepon saudara-saudara nya, dari mbah-om tante-sampai ponakannya, sekedar say hello, bertanya kabar sampai membangunkan tahajud, dan seringnya menggunakan bahasa roaming alias bahasa Madura hehehe 

Mungkin karena perlakuan papa ini makanya saya merasakan kehangatan meski saya belum terlalu akrab, dan juga…oleh-olehnya donk hahaha, 3 toples kue kering dan kroket juga 2 kantong berkatan kami bawa ke hotel 😅😅😄
Masya Allah, mungkin yang papa lakukan terlihat kecil tapi berdampak hebat! 

Semoga menjadi bekal papa di akhirat, Aamiiin 🙏🏽

Dan insya Allah tugas yang masih hidup untuk meneruskan silaturahim ini. 

Mengutip tausiyah Ustad di halal bihalal, “Mungkin karena kebaikan-kebaikan dan doa-doa yang dilakukan para leluhur untuk anak cucu keturunannya maka kita masih bisa merasakan efeknya dengan silaturahim keluarga yang terjaga ini. Entah kebaikan dan doa apa yang sudah eyang R. Djojomiharjo lakukan yang membuat keturunannya masih berkumpul sampai saat ini (sudah sampai generasi ke-6) 
Dengan niat bersilaturahim, menyambung persaudaraan karena AllahSWT, semoga ini bisa menjadi amal ibadah yang mengalir untuk para leluhur dan kita semua, insya Allah kelak bisa dikumpulkan kembali di surga Nya ☺️🙏🏽 Aamiiin ” 
ps: terima kasih AllahSWT yang sudah memberikan kesempatan untuk ini, entah apa yang Engkau inginkan dengan memberikan kesempatan ini saat ini. 

Semoga kami bisa mendapatkan hikmah dari silaturahim ini 🙏🏽

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s