How I feel …

Malam pertama kemarin belum begitu terasa kangen Ozan karena sampai sore masih bisa telepon-teleponan + ditambah telepon jatah 7menit di malam hari.  Yang paling terasa, sepiii! Engga ada yang tanya ini itu, engga ada yang bolak balik, engga ada suara protes nenek 😄 engga ada suara perintah mak inem 😁 hihihi eh ada sih, suara […]

Read more "How I feel …"

Ruang untuk dia 

Sebagai orang tua saya terpacu untuk belajar apa saja, menambah wawasan dari yang menjadi minat ataupun yang saya lihat baik dan harus tahu. 
Menjadi orangtua, memaksa saya untuk melawan rasa malu, rasa takut dalam mencari tahu. 

Saya pikir jadi orang tua harus serba tahu, belajar ini itu agar ketika anak bertanya saya bisa menjawab.

Itu pikiran saya. 

(Memang harus begitu sih tapi …) 

Di umur anak yang sudah ABG ini dan sifat saya yang ingin tahu (baca:harus tahu 😝) …saya penasaran banget ketika anak terlihat berpikir sesuatu tapi tidak mengungkapkan, saya ingiiiin tahu apa yang dia alami, dia pikirkan, dia rasakan. 

Mungkin keingintahuan itu berbatas tipis dengan kekuatiran anak menjalani periode ini. 

Beberapa orang mengingatkan, engga usah kepo! Anak kamu lagi berproses, cukup amati dan arahkan…..saya tidak mendengarkan, saya pikir, saya harus tahu baru bisa mengarahkan….dan hasilnya??? 

Hampir setiap hari diisi dengan adu argumen, ngomel ini itu karena merasa anak tidak mau mendengarkan, tidak mau mengingat kewajibannya, kesal karena anak makin diam mengunci mulut kalau ditanya pendapat atau pengalaman atau apapun menyangkut dirinya 
Huhuhuhu 😫

Rasanya pengen nangissss, merasa bukan ibu yang baik sampai anak sulit diatur dan tidak bisa mengungkapkan dirinya. 

Sampai suatu saat Kakak (panggilan guru di sekolah anak) meminta waktu untuk ngobrol, Deg!! Meski sudah 1 tahun mengalami pendidikam holistik di sekolah itu, tetap bawah sadar saya merasa reuwas karena mengingat kalau dulu orang tua dipanggil ke sekolah pasti anak bermasalah. 

Tapi saya terus mengingat bahwa ini sekolah holistik dan ini kesempatan untuk saya tahu perkembangan anak di sekolah (a.k.a. Saya juga udah mulai ngebul dikepala iniiiii) 

Pertemuan pertama, masih membahas dari sisi Kakak selama di sekolah, hampir semua sama, udah mau nangissss, tapi Kakak dengan sabar memberi alternatif, kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami lakukan bersama, aaaah secercah harapan! Ada yang nemenin saya!!! 😍

Pertemuan kedua, anak dilibatkan, meski tau anak bakal banyak diamnya, tapi saya senang dengan proses nya, memberi sinyal ke dia bahwa Mama nya dan Kakak satu suara mau bantu dia. 

Huhuhu Kali ini terharu 😩 

2x pertemuan dengan Kakak membuka hati, ternyata anak saya sangat mirip dengan saya dalam beberapa hal yang menurut saya kurang baik. Lebih suka diam daripada mengungkapkan diri, suka menunda pekerjaan, yaaa seperti itu lah (aib lah! Hehehe) 

Saya sadar saya harus usaha nih! Memperbaiki diri saya dan cari cara untuk mengembangkan diri anak. 

Sampai suatu saat, anak datang dari kegiatan coding di hari sabtu, “maaaaah sini donk, aku mau tunjukin sesuatu” dia buka laptop dan kit adruino nya, eeeemm saya mengeryitkan dahi *tumben nih, kata saya dalam hati* 

Lalu dia tunjukan hasil yang dia kerjakan hari itu, tombol yang ditekan sebentar akan nyala lampu nya sekali, kalau ditekan lama, lampu nya akan berkelap-kelip. 

Wow! Ini pertama kalinya dia menunjukan hasil coding! 

IMG_7296
Minggu depannya kejadian berulang kali ini menggunakan sensor gerak dan bunyi, kalau ada halangan di depan sensor dalam jarak tertentu akan ada bunyi keras dan dia bereksperimen dengan mengganti jarak jangkaun sensor.

Minggu ketiga, kejadian berulang lagi, kali ini sensor dan lampu, ketika ada yg lewat jarak X maka 3 buah lampu yang menyala, jarak Y  2 lampu, jarak Z 1 lampu. 

Aaaah senangnya! 
Lalu saya terhenyak!!! 
Saya engga tau coding arduino loh! Saya engga ngerti! Tapi anak saya bisa kok! Dia enjoy loh! Dan dia menunjukan hasilnya!! 

Dan rasa di hati tuuuh….adeeeeem! 

Eh ternyata it’s ok yaa kalau saya sebagai orangtua engga tahu sesuatu yang dia kerjakan! Ternyata dengan saya tidak tahu tidak membuat anak menyepelekan saya kok! 

Ternyata bikin dia dan saya antusias! 

(pssst padahal belajar arduino udah jadi rencana saya tp tertunda terus! Aaah rencanaMu selalu indah!) 

Ternyata saya harus benar-benar mengosongkan gelas saya dalam menghadapinya, karena mungkin bukan dia yang sedang diisi gelas nya tapi saya yang sedang diisi gelas nya! 

Jleb! 
dan perkataan untuk tidak kepo pun bergema! 

Rasanya saya harus banyak menahan diri (alias ego) dalam menghadapi anak 
Yaaa kita memang harus tahu lalu bisa mengarahkan, tapiii engga usah terlalu deket juga kalii! 

Dia butuh ruang untuk dirinya, dia butuh bicara dengan dirinya, mungkin saat ini dia hanya butuh saya dari jarak yang dia masih merasa…“mama masih ada di sana” 

aaaaah anak aku udah gedeee! 

Jadi ingat tulisan tentang ajakan bersyukur kalau saat ini anak-anak suka mengintil orang tua nya, karena semakin besar..dia butuh jarak, sibuk dengan dunianya, sampai suatu saat dia benar-benar pergi mengapai cita-cita dan sulit bersama secara fisik dengan orang tuanya. 

Heeeemm Allah lagi memperlihatkan sekaligus mengingatkan, kalau anakmu sudah semakin besar, dan waktunya dirimu juga berbenah lagi! 

Dengan kata lain…elu makin tua Dyah! Hehehe 😅

Ps: doakan yaaa biar saya istiqomah dalam menahan diri untuk tidak terlalu kepo, so far ada beberapa perubahan ☺️ 

Read more "Ruang untuk dia "

Ini pasti Anis Baswedan!

Bukan kampanye ya ini! 😄😄 Ozan dapat titipan dari sekolah buat mama nya, buku dengan judul “Menjadi Orang Tua hebat – untuk keluarga dengan anak usia SMP” Bingung!  Biasanya sekolah Ozan memberikan sharing parenting nya di binder khusus ortu, kok ini jadi buku?  Ternyata buku ini dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan… eeemmmm ini pasti program […]

Read more "Ini pasti Anis Baswedan!"